Selasa, 12 Januari 2010

bakabakabakabakabaka

finally nemu email account yang dipake buat blog ini, jadi bisa ngelanjutin nge blog...

sungguh baka, nasib oraang dengan ingatan ikan mas koki...

Kamis, 21 Mei 2009

Untung Proyek Tugas Akhir Saya Bukan Entertainment Center...

Banyak yang bertanya-tanya, sebenarnya apa yang saya kerjakan di Jepang. Ikut kuliah seperti mahasiswa disana? Ataukah melakukan penelitian demi proyek tugas akhir saya??

Jawabannya adalah: melakukan beberapa penelitian untuk proyek tugas akhir. Tapi, seperti yang disarankan oleh Bapak Dosen, maka saya melakukan beberapa penelitian sampingan, terutama mengenai fenomena perilaku manusia.

Hasilnya dapat dilihat pada posting berikut ini:

Rabu, 20 Mei 2009

STUDI KOMPARASI Perilaku dan Pergerakan Pengguna Ruang Bernyanyi Bersama

(Pengumuman: SELURUH penelitian dilakukan penulis dalam keadaan SADAR 100%. Sungguh, penulis tidak minum setetespun minuman yang tidak halal. Pun tidak makan makanan yang tidak halal.)


STUDI KASUS I

Lokasi : Shidax Donki-Hote, Hakozaki
Waktu : 24 April 2009, 01.00 - 05.00
Luasan ruang : sekitar 12.50 m2.

Latar belakang:
Sepulang mengikuti welcome party tahap kedua, dikarenakan hujan yang cukup deras, penulis memilih untuk bergabung bersama teman-temannya dan melakukan penelitian di malam yang dingin. Sungguh luar biasa pengabdian penulis...


Berdasarkan pengamatan penulis selama 3 jam (penulis tidur selama 1 jam. Maap, efek terlalu lelah menjalani 2 acara makan-makan dalam semalam...), analisis perilaku pengguna ruang adalah sebagai berikut:

- Analisis ketahanan fisik:


Gambar 1.1. Ketahanan Fisik Responden Dilihat dari Produktivitas Menyanyi



Gambar 1.2. Ketahanan Fisik Responden Dilihat dari Lamanya Tingkat Kesadaran


Dari gambar di atas, dapat diketahui bahwa ketahanan fisik responden tidak terlalu bergantung pada lokasi tempat duduk responden. Bagi responden yang berada di dekat layar, memiliki ketahanan fisik (dan mental?) lebih tinggi dibandingkan pada responden yang berada cukup jauh dari layar.
Meskipun begitu, terdapat anomali, dimana salah satu responden yang berada cukup jauh dari layar tetapi memiliki ketahanan fisik yang lebih kuat.


-Analisis pergerakan manusia:


Gambar 1.3. Pergerakan Responden

Dapat dilihat bahwa pergerakan responden hanya menuju ke satu arah, yaitu pintu keluar. Nyaris tidak ada perpindahan di dalam ruang. Bahkan perpindahan responden cenderung berkurang (bahkan berhenti) setelah 2 jam. Hal tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh tingkat kesadaran responden yang semakin melemah (baca: tidur, bukan mabok).


-Analisis pergerakan sirkulasi barang:


Gambar 1.4. Jangkauan dan Pergerakan Minuman

Dari gambar di atas, dapat disimpulkan dengan jelas bahwa penulis dan air putih merupakan pasangan yang tak terpisahkan.


STUDI KASUS II

Lokasi : kedai minum -entah-apa-namanya, Nakasu-kawabata
Waktu : 28 April 2009, 21.30 - 00.30
Luasan ruang : sekitar 72.00 m2

Latar belakang:
Setelah mengikuti acara makan-makan welcome party (lagi..), penulis menyadari bahwa taksi yang dinaikinya (bersama n*k*g*w*-san dan S*k*i-sensei) tidak menuju ke arah kampus. Ternyata sensei memberikan alamat sebuah kedai minum di daerah Nakasu. Penulis mengalami dilema. Antara buta arah tidak tahu jalan pulang dan keinginan untuk melakukan penelitian di malam hari.
Meskipun awalnya ragu, namun penulis dengan tekad baja akhirnya memilih melakukan penelitian. Bravo untuk penulis...

Berdasarkan pengamatan penulis selama 3 jam (kali ini penulis terjaga selama rentang waktu pengamatan. Yeyyy...), analisis perilaku pengguna ruang adalah sebagai berikut:

- Analisis ketahanan fisik:

Secara umum, ketahanan fisik responden relatif sama. Namun, jika ditilik dari produktivitas (banyak-banyakan nyanyi), maka dapat disimpulkan bahwa produktivitas berbanding lurus dengan tingkat senioritas.
Hal tersebut dibuktikan dengan kuantitas lagu yang dinyanyikan oleh responden yang lebih senior (sensei/dosen) berbanding dengan responden yang lebih junior (ryugakusei/mahasiswa).

-Analisis pergerakan manusia:


Gambar 2.1. Posisi Awal Responden


Gambar 2.2. Posisi Akhir Responden


Gambar 2.3. Jangkauan dan Posisi Minuman

Warna kuning merupakan pusat konsentrasi makanan awal. Dominasi oleh kelompok tertentu menyebabkan responden lain cenderung manciptakan konsentrasi massa baru. Warna biru menunjukkan jangkauan teh oolong, warna merah menunjukkan jangkauan minuman tidak halal.

Berbeda dengan kasus pertama, pergerakan responden cenderung tinggi pada kasus kedua. Ditengarai pergerakan responden tersebut disebabkan oleh dua hal:

Pertama, kuantitas makanan yang lebih banyak dibanding dengan kasus 1.
Pada area yang memiliki kemudahan akses pada makanan atau terdapat banyak makanan, kecenderungannya akan terjadi konsentrasi massa yang berpusat pada makanan tersebut (Ita, 2009). Meskipun begitu, terjadi pengecualian jika pada area tersebut telah didominasi oleh golongan tertentu.
Hal tersebut akan menyebabkan responden lain cenderung untuk mencari tempat lain dan menciptakan pusat konsentrasi massa baru.

Kedua, luasan ruang yang lebih besar, sehingga responden lebih leluasa untuk berpindah tempat.


Dari data pada kasus kedua, muncul kesimpulan yang berbeda dengan kasus pertama. Dalam kasus kedua, kombinasi yang tak terpatahkan adalah penulis + teh oolong + edamame (baca: kedele rebus).

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Kesimpulan akhir :
1. Pergerakan responden dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu luasan ruang, ketahanan fisik, serta kemudahan akses terhadap makanan.
2. Kombinasi antara penulis+air putih memiliki nilai yang sama kuat dengan kombinasi penulis+teh oolong+kedele rebus.
3. Adanya kesamaan lagu yang dinyanyikan penulis menunjukkan keterbatasan bahasa Jepang dan ketidakmampuan membaca tulisan kanji penulis.
4. Biarpun begitu, penulis tetap suka karaoke... Yippiiii...

--------------------------------------------------------------------------------------------------

~...akankah ada studi kasus ketiga??? benarkah penulis tidak mampu menyanyikan lagu bahasa Jepang lainnya??? apakah benar bahwa kemampuan bernyanyi penulis menurun karena ia terlalu banyak minum air es??? penasaran????? ooohhh...mari kita nantikan kelanjutannya... ~

Rabu, 11 Februari 2009

.....in.transitions....

...sebenernya rada gak niat nulis ni...

Still working on my final task and personal goal (1 book @month)...

Oh yeah, and I've already finished 2 more books.. So far, I've got 4 books (out of 12) and still counting! Yap... padahal baru Februari... 

Beberapa minggu yang lalu habis nyelesai in Michaelangelo's Secret. Got nothing to say but 'cheap-unthrilling version of DaVinci Code'. Nemu buku itu di rak, ortu beli waktu jaman boomingnya DaVinci Code. Habis kelar Michaelangelo's Secret, langsung baca Winter and Night (S.J. Rozan). Cukup menarik, tapi alurnya cukup lambat. Semodel Mystic River versi buku (belum baca novelnya), penokohan yang (cukup?) kuat, dengan alur lambat cenderung bertele-tele di depan. Oh ya, buku ini juga nemu di rak buku. Ortu yang beli bbrapa tahun lalu...

Sekarang lagi baca After Dark - Haruki Murakami. Love it!! Bukan cuma karena deskripsi tokoh utama (Mari Asai) yang sooo... me??! (gr an bgt..), tapi juga setting cerita yang absurd dan aneh.. Kehidupan Tokyo pada after dark (periode tengah malem - menjelang pagi, kira-kira jam 11/12 - 5). Yang bikin gw suka adalah karakter-karakternya yang 'sepi', ditambah nuansa bukunya yang suram. Highly recommended dibaca pada periode waktu after dark.. Novelnya cukup tipis, cuman 200-an halaman (ebook, dapet via 4shared...). Pengen beli versi cetaknya tapi mahal, di Periplus 105.000 IDR (cuman buat sekitar 200-an halaman...).  

Kalo ada duit pengennya sih beli Time-Traveller's Wife sama Lolita (paket kombo sekitar 100K IDR)... Makanya diam-diam menantikan duit upah asisten yang belom turun, hehe...

....(~~").....

Minggu, 01 Februari 2009

resensi: the curious case of Benjamin Button

My name is Benjamin Button, and I was born under unusual circumstances. While everyone else was agin', I was gettin' younger... all alone...

And so begins The Curious Case of Benjamin Button... Cerita tentang kehidupan Benjamin Button yang ajaib, - lahir dengan usia 80 tahun, dan semakin lama semakin muda... Dari masa 'kecilnya' di panti jompo New Orleans, petualangannya dalam perang, sampai kisah cintanya dengan Daisy, yang dikenalnya sejak 'kecil'.. 


My fault, awalnya saya mengharapkan sebuah cerita yang misterius dengan twist luarbiasa di endingnya... Apalagi melihat nama David Fincher dan Brad Pitt (ingat Fight Club? Se7en?). Tapi ternyata ekspektasi saya yang terlalu berlebihan itu salah... Hehe, ini spoiler buat yang mengharapkan kejutan di akhir film juga seperti saya..

Sebenarnya opening film ini cukup menarik, mengenai pembuat jam yang berusaha mengembalikan anaknya yang telah meninggal (dengan cara membuat jam yang berjalan terbalik). Pada beberapa bagian film, seperti urutan adegan ketika Daisy tertabrak mobil, disajikan sangat menarik. Penuh dengan berbagai 'and while' serta 'if'.. 

Secara keseluruhan, The Curious Case memang film dengan kelas Oscar. Brad Pitt mungkin cukup pantas masuk nominasi aktor terbaik (tapi rasanya tidak semenarik Ewan McGregor di Big Fish. apalagi Tom Hanks..). Cate Blanchett menakjubkan seperti biasa. Scoring nya luarbiasa (ini yang bener-bener saya suka dari film ini). Tapi tipikal ceritanya bukan sesuatu yang baru.. 

Untuk hal ini, The Curious Case bisa dibandingkan dengan Big Fish dan Forrest Gump (terutama Big Fish). Secara personal, saya lebih suka Big Fish.. Perpindahan dari flashback kehidupan tokoh utama ke situasi saat ini - nya lebih bagus. Bagian akhir filmnya juga lebih menarik, bahwa ternyata sang ayah ternyata cuma melebih-lebihkan, bukan pembohong.. Di The Curious Case, sayangnya lebih flat. Interaksi anak dan ibunya cuma diperlihatkan lewat adegan di rumah sakit, sesuatu yang cukup standar. 

Yaa... Sekali lagi itu cuma pendapat saya, orang yang kecewa karena ekspektasinya berlebihan... Kenyataannya, film ini film yang bagus, meski buat saya bukan yang terbagus...



Jumat, 16 Januari 2009

resensi: Honeymoon with My Brother

Judul : Honeymoon with My Brother
Pengarang : Franz Wisner
Penerbit : Serambi
Harga : 60 K something 


Judul yang sangat eye-catchy, cover (yak... judge the book by its cover, again..) yang menenangkan hati (*liburan mode on*), dan tulisan di pojok kiri atas 'Oprah's Book Club', yang jadi alasan saya beli buku ini. Oya, ditambah embel-embel 'The New York Times Bestseller' deng..

Kehidupan Franz Wisner seolah hancur berantakan setelah tunangannya (yang sudah 10 tahun dipacarinya) memutuskan hubungan, seminggu sebelum pernikahan mereka. Nyaris putus asa, Franz memutuskan tetap melangsungkan pesta pernikahan (tanpa pengantin wanita), dan pergi berbulan madu ditemani adiknya, Kurt.

'Bulan madu' yang awalnya hanya sebagai gurauan ternyata menjadi pengalaman luar biasa bagi keduanya. Kakak beradik ini memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan mereka, menjual rumah, dan memulai perjalanan keliling dunia mereka. 

Rusia. Ceska. Turki. Suriah. Indonesia. Thailand. Brazil. Trinidad. Afrika Selatan. Botswana. Zimbabwe.

Perjalanan tersebut tidak hanya membawa mereka ke tempat-tempat yang unik dan menarik, tetapi juga untuk (kembali) mengenal satu sama lain.

Gaya penceritaannya ringan, dengan flashback sesekali mengenai hubungan Franz dengan Annie, tunangannya, maupun adiknya, Kurt. Membaca novel ini serasa menonton film (dan konon Sony Pictures sudah mengantongi hak pembuatan filmnya). Ditambah lagi dengan adanya tips-tips unik dari kakak beradik ini (seperti tips menghindari pedagang asongan yang luarbiasa lucu).

Seperti biasa, habis baca buku ini, saya terinspirasi untuk keliling dunia.. Haha.. Ketebak banget.. Selain itu, ada satu pelajaran yang bisa diambil dari kakak beradik (yang berpenampilan seperti backpackers, tapi sekaligus benci setengah hidup dengan kaum packers)  ini: Jangan terlalu percaya sama lonely planets.. Sebuah perlawanan terhadap kitab suci backpackers sejagad, hehe...

Hmm... Kayaknya saya gak punya komentar selain baca sendiri bukunya. Komentar-komentar dan pengalaman Wisner Brothers terlalu banyak yang berkesan buat saya.. Salah satunya adalah komentar Franz mengenai Indonesia, yang diibaratkan wanita cantik berkain, dengan tumpukan buah-buahan di atas kepalanya yang tengah menepuk pantat anaknya. Cantik, tertata, dan tidak ragu-ragu menggunakan kekerasan. Waks..

Senin, 12 Januari 2009

resensi: Twilight

Judul : Twilight
Pengarang : Stephenie Meyer
Penerbit : Gramedia
Tebal : 518 hal
Harga : 50 K something... (di Togamas diskon 20 %, hahaha...)

Jujur aja, saya gak pernah kepikiran buat beli novel ini sama sekali. Ok, pertama liat judul (dan cover... judge the book by its cover lah..), kesannya sangat menggoda. Judul yang singkat, padat, jelas, serta covernya yang sedikit kartun bikin saya penasaran. Belum lagi kata-kata 'Best Book of The Year', 'Editor's Choice', di cover depannya. Sangat menggoda. Sampai saya baca sinopsis di sampul belakang bukunya.

'Ketika Isabella Swan pindah ke Forks yang muram, ia bertemu Edward Cullen, cowok misterius yang sangat memesona yang membuat perasaannya jungkir balik. Dengan kulit porselen, sepasang mata keemasan, dan suara merdu memikat, Edward sungguh sosok teramat menarik. Selama ini Edward telah berhasil menyembunyikan identitasnya yang sesungguhnya, tapi Bella bertekad untuk menyingkap rahasia paling kelamnya.'
Pikiran saya sehabis baca sinopsis ini adalah : 
1. Darn, gak ada adegan pembunuhan ni kayaknya... Meskipun bercerita tentang vampir (di sinopsisnya juga ditulis kok), insting saya bilang kalau adegan berdarah-darah gak bakal ada di buku ini.
2. Waks, romantis... Novel romantis itu sooo not into me.

Tapi blowout dari media (thanks to the internet, and newspapers...) dan impact dari filmnya bikin saya penasaran juga. Dan akhirnya, setelah berbulan-bulan sejak perjumpaan saya dengan novel ini (serta setelah siku saya ngilu gara-gara kebanyakan baca versi Inggrisnya sambil tengkurep di depan laptop), saya beli juga ni novel..

Sebenernya ceritanya (sangat) mudah dicerna dan dibayangkan. Plotnya simpel dan dialognya sangat romantis (kalo saya bilang sih gombal, hehe). Gak heran kenapa banyak yang nge fans sama novel ini. Apalagi deskripsi tokohnya 'memuaskan hati' pembaca, hahahaha... 

Sayangnya, selera saya rada diluar mainstream, jadi ada beberapa hal yang bikin saya kecewa sama novel ini. Pertama, saya (sangat) kecewa sama tokoh utamanya (Bella Swan). Sebagai orang yang paling seneng waktu percobaan pengujian darah di lab bio, rasanya agak gak terima juga baca si Bella ini hampir pingsan gara-gara mencium bau darah dikit. Imajinasi saya sih, bakal lebih oke kalo tokoh utamanya lebih tangguh, minimal kayak Buffy lah. 

Konfliknya cukup simpel dan 'damai'. Bagian waktu keluarga Cullen ngebantuin Bella kabur dari vampir pemburu sebenernya lumayan seru, tapi rasanya kok terlalu singkat. Tokoh vampirnya juga kelewat romantis (Edward).. Maklum, mental saya campuran antara preman dan pembunuh berdarah dingin, gak terbiasa baca dialog-dialog super romantis...

Overall, novel ini lumayan enak dibaca (apalagi sambil ngebayangin muka Robert Pattinson, yang jadi Edward di filmnya).. Buat saya, Twilight bisa jadi intermezzo dari bacaan normal saya (which is komik, Sherlock Holmes, dan novel-novelnya Dan Brown serta Agatha Christie). Tapi yaaa cuma sampai disitu... Kalo toh saya tiba-tiba pengen baca lanjutannya, kayaknya lebih terima baca lewat e book aja deh (dan saya gak yakin pengen baca lanjutannya, hehehe)..


PS: Twilight adalah novel tetralogi , lanjutannya berjudul New Moon, Eclipse, dan Breaking Dawn. Ada satu judul lagi, Midnight Sun, tapi isinya berupa narasi ulang Twilight dari perspektif Edward Cullen.

Next target (otw): Honeymoon with my Brother (Franz Wisner).