Kamis, 21 Mei 2009

Untung Proyek Tugas Akhir Saya Bukan Entertainment Center...

Banyak yang bertanya-tanya, sebenarnya apa yang saya kerjakan di Jepang. Ikut kuliah seperti mahasiswa disana? Ataukah melakukan penelitian demi proyek tugas akhir saya??

Jawabannya adalah: melakukan beberapa penelitian untuk proyek tugas akhir. Tapi, seperti yang disarankan oleh Bapak Dosen, maka saya melakukan beberapa penelitian sampingan, terutama mengenai fenomena perilaku manusia.

Hasilnya dapat dilihat pada posting berikut ini:

Rabu, 20 Mei 2009

STUDI KOMPARASI Perilaku dan Pergerakan Pengguna Ruang Bernyanyi Bersama

(Pengumuman: SELURUH penelitian dilakukan penulis dalam keadaan SADAR 100%. Sungguh, penulis tidak minum setetespun minuman yang tidak halal. Pun tidak makan makanan yang tidak halal.)


STUDI KASUS I

Lokasi : Shidax Donki-Hote, Hakozaki
Waktu : 24 April 2009, 01.00 - 05.00
Luasan ruang : sekitar 12.50 m2.

Latar belakang:
Sepulang mengikuti welcome party tahap kedua, dikarenakan hujan yang cukup deras, penulis memilih untuk bergabung bersama teman-temannya dan melakukan penelitian di malam yang dingin. Sungguh luar biasa pengabdian penulis...


Berdasarkan pengamatan penulis selama 3 jam (penulis tidur selama 1 jam. Maap, efek terlalu lelah menjalani 2 acara makan-makan dalam semalam...), analisis perilaku pengguna ruang adalah sebagai berikut:

- Analisis ketahanan fisik:


Gambar 1.1. Ketahanan Fisik Responden Dilihat dari Produktivitas Menyanyi



Gambar 1.2. Ketahanan Fisik Responden Dilihat dari Lamanya Tingkat Kesadaran


Dari gambar di atas, dapat diketahui bahwa ketahanan fisik responden tidak terlalu bergantung pada lokasi tempat duduk responden. Bagi responden yang berada di dekat layar, memiliki ketahanan fisik (dan mental?) lebih tinggi dibandingkan pada responden yang berada cukup jauh dari layar.
Meskipun begitu, terdapat anomali, dimana salah satu responden yang berada cukup jauh dari layar tetapi memiliki ketahanan fisik yang lebih kuat.


-Analisis pergerakan manusia:


Gambar 1.3. Pergerakan Responden

Dapat dilihat bahwa pergerakan responden hanya menuju ke satu arah, yaitu pintu keluar. Nyaris tidak ada perpindahan di dalam ruang. Bahkan perpindahan responden cenderung berkurang (bahkan berhenti) setelah 2 jam. Hal tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh tingkat kesadaran responden yang semakin melemah (baca: tidur, bukan mabok).


-Analisis pergerakan sirkulasi barang:


Gambar 1.4. Jangkauan dan Pergerakan Minuman

Dari gambar di atas, dapat disimpulkan dengan jelas bahwa penulis dan air putih merupakan pasangan yang tak terpisahkan.


STUDI KASUS II

Lokasi : kedai minum -entah-apa-namanya, Nakasu-kawabata
Waktu : 28 April 2009, 21.30 - 00.30
Luasan ruang : sekitar 72.00 m2

Latar belakang:
Setelah mengikuti acara makan-makan welcome party (lagi..), penulis menyadari bahwa taksi yang dinaikinya (bersama n*k*g*w*-san dan S*k*i-sensei) tidak menuju ke arah kampus. Ternyata sensei memberikan alamat sebuah kedai minum di daerah Nakasu. Penulis mengalami dilema. Antara buta arah tidak tahu jalan pulang dan keinginan untuk melakukan penelitian di malam hari.
Meskipun awalnya ragu, namun penulis dengan tekad baja akhirnya memilih melakukan penelitian. Bravo untuk penulis...

Berdasarkan pengamatan penulis selama 3 jam (kali ini penulis terjaga selama rentang waktu pengamatan. Yeyyy...), analisis perilaku pengguna ruang adalah sebagai berikut:

- Analisis ketahanan fisik:

Secara umum, ketahanan fisik responden relatif sama. Namun, jika ditilik dari produktivitas (banyak-banyakan nyanyi), maka dapat disimpulkan bahwa produktivitas berbanding lurus dengan tingkat senioritas.
Hal tersebut dibuktikan dengan kuantitas lagu yang dinyanyikan oleh responden yang lebih senior (sensei/dosen) berbanding dengan responden yang lebih junior (ryugakusei/mahasiswa).

-Analisis pergerakan manusia:


Gambar 2.1. Posisi Awal Responden


Gambar 2.2. Posisi Akhir Responden


Gambar 2.3. Jangkauan dan Posisi Minuman

Warna kuning merupakan pusat konsentrasi makanan awal. Dominasi oleh kelompok tertentu menyebabkan responden lain cenderung manciptakan konsentrasi massa baru. Warna biru menunjukkan jangkauan teh oolong, warna merah menunjukkan jangkauan minuman tidak halal.

Berbeda dengan kasus pertama, pergerakan responden cenderung tinggi pada kasus kedua. Ditengarai pergerakan responden tersebut disebabkan oleh dua hal:

Pertama, kuantitas makanan yang lebih banyak dibanding dengan kasus 1.
Pada area yang memiliki kemudahan akses pada makanan atau terdapat banyak makanan, kecenderungannya akan terjadi konsentrasi massa yang berpusat pada makanan tersebut (Ita, 2009). Meskipun begitu, terjadi pengecualian jika pada area tersebut telah didominasi oleh golongan tertentu.
Hal tersebut akan menyebabkan responden lain cenderung untuk mencari tempat lain dan menciptakan pusat konsentrasi massa baru.

Kedua, luasan ruang yang lebih besar, sehingga responden lebih leluasa untuk berpindah tempat.


Dari data pada kasus kedua, muncul kesimpulan yang berbeda dengan kasus pertama. Dalam kasus kedua, kombinasi yang tak terpatahkan adalah penulis + teh oolong + edamame (baca: kedele rebus).

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Kesimpulan akhir :
1. Pergerakan responden dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu luasan ruang, ketahanan fisik, serta kemudahan akses terhadap makanan.
2. Kombinasi antara penulis+air putih memiliki nilai yang sama kuat dengan kombinasi penulis+teh oolong+kedele rebus.
3. Adanya kesamaan lagu yang dinyanyikan penulis menunjukkan keterbatasan bahasa Jepang dan ketidakmampuan membaca tulisan kanji penulis.
4. Biarpun begitu, penulis tetap suka karaoke... Yippiiii...

--------------------------------------------------------------------------------------------------

~...akankah ada studi kasus ketiga??? benarkah penulis tidak mampu menyanyikan lagu bahasa Jepang lainnya??? apakah benar bahwa kemampuan bernyanyi penulis menurun karena ia terlalu banyak minum air es??? penasaran????? ooohhh...mari kita nantikan kelanjutannya... ~